Kahi dilahirkan dari keluarga petani. Hidup seadanya. Menjalani hidup normal seperti anak - anak lain pada umumnya. Sekolah, bermain bola, melaut, memancing di danau dan masih banyak lagi. Dia tinggal bersama orang tua di sebuah desa yang tidak terlalu jauh dari Ibu Kota Kabupaten. Ayahnya sudah tiada. Saat masuk SMP, dia didaftarkan mamanya di SMP desa sebelah. Jaraknya kurang lebih 5KM dari rumah. Kesekolah kadang jalan kaki, kadang diantar saudara, kadang menumpang bis atau truk yang lewat. Tapi lebih sering jalan kaki 😁
3 tahun berlalu, Kahi akhirnya lulus SMP. Karena di desa belum ada sekolah menengah atas maka Kahi harus melanjutkan sekolah di kota.
Singkat cerita, Kahi didaftarkan di sekolah menengah kejuruan, jurusan Akuntansi. Sungguh sesuatu yang tidak Kahi duga dan tidak dimengerti. Ya, yang penting sekolah. wkwkwkwk.
Maklum,anak kampung. Tidak pernah merencanakan sesuatu. Menyerahkan semua urusan ke dalam tangan orang tua, lebih tepat mama. Hahaha. Super 😁. Maklum, cita2 Kahi semasa kecil sungguh sangat bervariasi. Sebentar ingin menjadi guru,sebentar polwan, sebentar dokter bahkan pendeta. Banyak sekali.Hahahaha.
Oke lanjut. Dengan sangat bahagia Kahi mengikuti kelas Akuntasi. Entah itu karena baru saja mengenakan pakaian putih abu, sepatu baru dan tas baru atau karena baru pindah ke kota. Kahi bersekolah sambil berpikir nanti bakal jadi apa. Gurukah? Pendetakah? Karyawati di bank kah? Atau apa? Tapi tidak apa - apa. Yang penting lanjut sekolah dulu. Ah, betapa tidak terencananya masa depan Kahi dulu. Sangat berbeda dengan kehidupan anak - anak saat ini. Jika ditanya mau jadi apa, dengan percaya diri mereka akan menjawab : mau jadi dokter. Nanti mau ambil S1 di Jogja. Atau, mau sekolah farmasi di Surabaya. Seperti sangat dekat dan familiar.
2009, Kahi lulus.
Beberapa teman kelas Kahi sudah banyak merencanakan akan melanjutkan kuliah di mana, mau kemana setelah lulus.
Meski belum ada bayangan, Kahi juga tidak mau kalah. Hahaha. Wali kelas Kahi berkata "Kahi, lanjut saja di Kupang ambil jurusan yang sama dengan sekarang to. Nanti pulang jadi guru".
"Aduh, serius ini Pak Guru? Waii bae sudah Pak!" Kahi menjawab.
"Kuliah dan pulang untuk mengajar. Jadi guru. Masa depan su mulai kelihatan." Kahi bergumam dalam hati. Sudah ada modal untuk meyakinkan mama.
Maklum, yang paling familiar saat itu untuk Kahi adalah guru. Cita - cita favorit masa kecilnya adalah guru, polisi, tentara, perawat dan pendeta. Karena yang kelihatan hanya itu. Dan yang Kahi tau hanya itu. Tidak ada akuntan, pegawai pajak, pegawai bank, sales, apa lagi pengusaha. Dalam pikiran Kahi, pengusaha hanya ada di Jakarta. Karena sering nonton sinetron.
"Mama, saya punya Pak Guru bilang lanjut di Kupang saja, ambil jurusan yang sama dengan jurusan sekarang. Nanti pulang bisa mengajar sudah. Saya ikut itu saja ia mama?" Dengan penuh semangat, Kahi minta ke mama untuk lanjut di Kupang. Sebenarnya, saat itu bahkan Kahi tidak punya bayangan apapun tentang kuliah selain pakaian ke kampus yang santai seperti orang mau jalan - jalan. Kahi juga tidak memikirkan tentang biaya yang cukup mahal untuk ukuran anak petani.
Mama bilang, "sabar dulu Kahi ee... Istrahat dulu 1 tahun di rumah. Tahun depan baru lanjut di sini saja. Ada kampus ju di sini, biar jangan jauh - jauh"
" ya mama. Mo bagaimana lagi." Sahut Kahi.
Walau dengan berat hati, Kahi tidak sanggup menolak.
Pupus sudah khayalan Kahi jadi anak kuliah. Dan harapan untuk dan pulang jadi guru ambyar sudah.
Bersambung...
Tanpa kita sadari, pilihan - pilihan dalam hidup dan keputusan - keputusan yang kita ambil, tidak hanya karena kemauan semata. Tapi jauh lebih banyak karena pengaruh keadaan sekitar.
Banyak hal yang tidak kita inginkan dalam hidup, tapi kita terpaksa harus berdamai dengan keadaan. Nasi sudah jadi bubur. Mari mencoba untuk menjadikannya bubur ayam.


No comments:
Post a Comment